by

Eddy Yusuf, Mungkinkah Come Back Memimpin OKU lagi?

Siapa tak kenal Eddy Yusuf? Dia adalah mantan Bupati Ogan Komering Ulu periode 2003-2005 yang sebelumnya didahului sebagai Wakil Bupati OKU 2000-2003 mendampingi Bupati yang dijabat Syahrial Oesman.  Syahrial Oesman kemudian menjadi Gubernur Sumsel 2003-2008.

Periode kedua menjabat sebagai Bupati OKU tahun 2005-2007 namun tidak sampai selesai masa jabatan kemudian dilanjutkan menjadi Wakil Gubernur Sumsel 2008-2013. 

Eddy Yusuf

Program-program Eddy Yusuf ketika menjadi wakil bupati dan menjadi bupati waktu itu cukup dikenal luas.  Dia membangun sejumlah sarana dan infrastruktur seperti lampu jalan di kota bahkan ke Desa Ulu Ogan.  Selain itu pembangunan Stadion Kemiling, Kolam Renang bertandar internasional, Terminal Induk Batu Kuning dan Pasar Induk Batu Kuning.  Namun banyak yang belum berfungsi dengan baik.  “Kolam renang sekarang menjadi tempat hiburan seperti water boom, bukan untuk membina atlet,” kata pria kelahiran Baturaja 65 tahun silam ini.  Semula dia menginginkan akan melahirkan atlet renang dari OKU, bahkan sempat meminta kesediaan pelatih renang legendaris dari Jambi, Raja Nasution untuk melatih atlet renang di Baturaja namun tak kesampaian hingga saat ini.

Penerima Satyalancana Wirakarya dari Presiden RI 2004 dan pernah menjadi Pembina Terbaik Karang Taruna Tingkat Kabupaten se-Indonesia, 2006  juga menyayangkan beberapa pembangunan yang monumental di OKU belum tuntas dan belum dimaksimal dimanfaatkan sesuai tujuannya karena dia keburu pindah menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumsel.

Dia mencontohkan, Pasar Induk dan Terminal Induk Batukuning tidak difungsikan secara maksimal sampai saat ini.  Eddy mengakui, masih banyak yang belum sempat dikerjakannya antara lain menggantikan jembatan gantung  Kemiling, Jembatan Semidang Aji, Jembatan Pengandonan, Jembatan Lingkar Kota dan sebagainya.

Menanggapi banyaknya pembangunan saat itu sementara ada keterbatasan APBD Kabupaten OKU, Eddy yang lahir di Baturaja ini melakukan kompromi dengan dinas-dinas.  “Saya memindahkan anggaran APBD yang cuma berisi seminar dan lokakarya.  Dari alokasi tersebut saya alokasikan 70% untuk pembangunan dan hanya 30% untuk dana rutin gaji pegawai,” tuturnya kepada R, Harbeni dari Nagara News Network Minggu (1/3/2020).

Dia tidak memungkiri, bahwa dana yang besar dewasa ini sudah mencapai Rp 1 triliun lebih tidak dapat dirasakan oleh masyarakat dan tidak bisa dilihat masyarakat.  “Harusnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat bukan sesuai dengan keinginan pemerintah,” tandas Eddy yang masih sangat hafal apa yang telah dilakukan apa yang belum terlaksana dengan baik sampai saat ini.

Siap Kembali Memimpin OKU

Terkait dengan Pilkada yang akan dilangsungkan tahun 2020 ini dimana tujuh kabupaten termasuk OKU akan memilih pemimpin yang baru, Eddy mengatakan akan memenuhi keinginan masyarakat dan menghargainya termasuk memimpin kembali.

Dia berharap, pada Pilkada yang akan datang masyrakat benar-benar menjadikannya pesta rakyat sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan bukan perang.  Dengan menjadikan Pilkada sebagai pesta rakyat maka akan diperoleh pemimpin yang berkualitas. Dia juga menyebut berbagai tokoh-tokoh asal OKU yang menjadi tokoh nasional seperti Firli Bahuri (Tangsilontar) yang menjadi Ketua KPK, Jimly Asshiddiqie (Kedaton, OKU).  Untuk itu, pembangunan SDM melalui pendidikan akan menjadi perhatiannya termasuk membangun sekolah sampai ke ujung-ujung terjauh Kabupaten OKU.

Eddy yang pernah menjadi anggota BP7 Nasional dan merupakan atlet basket dan permah menjadi Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumsel, sangat menginginkan munculnya atlet-atlet dari Bumi Sebimbing Sekudang.  Tak tanggung-tanggung, ketika menjadi bupati OKU, dia menyisihkan dana operasional bupati untuk memberikan beasiswa bagi atlet berprestasi.

Namun demikian, ayah tiga orang anak yang semuanya sudah mandiri ini masih akan mendiskusikannya dengan anak dan istri.  “Anak-anak sudah mandiri semua jadi saya sudah tidak ada beban lagi.  Saya akan diskusikan kepada mereka apa yang terbaik untuk saya dan juga terbaik untuk masyarakat,” katanya seraya menambahkan bahwa dia hanya akan menjadikan pengabdiannya sebagai amal dan bermanfaat untuk masyarakat.  “Saya tidak ada kepentingan apa-apa lagi.  Saya hanya ingin mengabdikan diri kepaa masyarakat dan mudah-mudahan menjadi amal  untuk menghadap Tuhan karena umur yang banyak ini,” tandasnya.

Dia juga berpesan bahwa demokrasi bukan sesuatu yang luar biasa.  Demokrasi adalah hal yang rutinitas lima tahun sekali, bukan untuk dijadikan heboh apalagi mengorbankan masyarakat untuk kepentingan berkuasa.

“Jadi kalau saya ke Baturaja bukan sesuatu yang aneh,” katanya seraya menambahkan kepulangan ke Baturaja memang melihat situasi OKU dan situasi rumahnya yang terletak di Kemelak, Baturaja Timur.

Dia pun meminta kepada media untuk membuat pemberitaan yang mendidik agar masyarakat lebih cerdas memilih pemimpin sehingga mampu membangun daerahnya agar lebih maju. “Jangan bikin gaduh masyarakat OKU, jangan ada gejolak, jangan korbankan masyarakat demi kepentingan pribadi,” tandasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + one =